Jurnalisme sebagai Terapi yang Dibayar

Jurnalisme berfungsi sebagai terapi profesional yang dibayar, di mana wartawan mengelola paparan realitas keras melalui disiplin verifikasi dan penulisan, menjaga kewarasan mental sambil menyaring fakta untuk publik.

Konsep ini ungkap ketegangan unik profesi: jurnalis terlibat emosional secukupnya namun tetap objektif, hadapi emosi narasumber dan tekanan deadline tanpa larut. Diskusi di Jawa11 soroti nilai “emotional labor” ini sebagai inti kerja, tapi kritik muncul soal kurangnya dukungan institusional seperti cuti mental health, membuat terapi jadi beban pribadi bukan hak struktural.

Mekanisme Kerja Batin

Menulis jadi proses terapi: susun ulang kekacauan peristiwa jadi narasi koheren, tolak sensasi demi verifikasi sabar. Ini bukan katarsis instan, melainkan latihan rutin hadapi kenyataan tanpa tutup mata, mirip sesi terapi yang kelola paparan trauma. Namun, algoritma media percepat siklus berita, ubah fungsi terapi dari pemrosesan jadi penahan laju sensasionalisme.

Tantangan Era Digital

Tekanan metrik keterlibatan dorong konten viral ketimbang substansi, tingkatkan burnout jurnalis yang hadapi konflik tanpa pelatihan formal empati kritis. Studi tunjukkan jurnalis rentan depresi dua kali lipat profesi lain, tapi media jarang sediakan konselor atau jeda refleksi.

Tanggung Jawab Institusi

Hari Pers Nasional jadi momen evaluasi: jurnalisme butuh ekosistem dukung kewarasan—waktu verifikasi, proteksi kualitas, upah layak—agar tetap keras kepala pada fakta. Tanpa reformasi ini, terapi yang dibayar jadi paradoks: profesi selamatkan publik tapi korban jiwa pelakunya.

Pantau isu media global di CNN. Kembali ke Beranda.